Rabu, 13 Agustus 2014

Perjuangan Menuntut Ilmu

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pada dasarnya sudah dianugerahkan Tuhan kemampuan yang berbeda-beda. walaupun yang lahir itu kembar, mereka punya sifat yang berbeda satu dengan yang lain. Sudah selayaknya tugas kita sebagai manusia, makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna mengasah, memilah, dan mengembangkan kemampuan yang telah kita miliki. Berusaha, berdoa dan ikhtiar serta bertawakkal, itulah tugas manusia. Tapi tak jarang dikehidupan sering kita jumpai berbagai rintangan. Liku-liku dalam kehidupan adalah jalan menuju tujuan akhir manusia. Liku-liku kehidupan itu bukan berarti cobaan saja, tetapi juga berupa ujian ibarat bangku pendidikan, setiap akan naik kelas pasti menghadapi ujian terlebih dahulu. Naik atau tidaknya seorang insan mengahadapi liku kehidupan terletak dari kesabarannya menghadapi semua yang ia hadapi. Disini saya sedikit berbagi dengan sahabat-sahabat sekalian tentang kehidupan pribadi saya. Semoga teman-teman terinspirasi dengan kisah saya ini.
Namaku Ezha Fitria Yudiarti, cukup panggil dengan Ezha. Aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ibuku seorang ibu rumah tangga biasa sedangkan ayahku seorang buruh harian. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Umurku sekarang 18 tahun memasuki 19 tahun. Selama hidup, ibuku sering menceritakan bagaimana jalan hidupku selama ini. Dulu waktu aku terlahir kedunia ini, ibu bilang aku sering sakit-sakitan. berat badanku saja dibawah berat normal bayi lainnya. Sekitar usia 1 tahun, aku mengidap sakit muntaber. Ketika dibawa kedokter, ternyata bukannya semakin sembuh, tapi salah obat. Dan akhirnya lama-kelamaan aku sembuh setelah berobat kesana-kemari. menginjak usia 3 tahun, adikku lahir. tahun 1998 adalah tahun krisis pemerintahan otoriter, dimana semuanya serba kesulitan. bahkan pernah dirumah beras sebutir pun tak ada. Ibuku bingung mau masak apa hari ini? untung ada tetangga sebelah yang berbaik hati memberikan kami beras untuk bekal hidup hari ini. Beberapa tahun kemudian, rumah yang kami tempati itu laku terjual, dan kami sekeluarga pindah di tempat tinggal kami sekarang ini. Tahun ke tahun kehidupan keluarga kami pun semakin lama semakin membaik. Usiaku pun menginjak 5 tahun. Kebanyakan anak-anak seusiaku ini sudah mengecap bangku sekolah, sebut saja TK. seiring berjalan waktu, aku belajar membaca, berhitung bukan dari ibuku, melainkan ayahku. Ibuku pada dasarnya baik hati, namun mungkin saja aku yang sulit menangkap pelajaran ketika ibu yang mengajariku. Untung saja aku punya ayah yang penyabar. Bahkan pernah saat aku belajar membaca, berjam-jam aku belum paham, buku yang ada di meja itu dilempar ibuku karena kesal aku tak paham-paham. Lalu datanglah ayahku, dengan kesabarannya ia berusaha mengajariku perlahan-lahan.
Keesokan harinya disekolahku ketika belajar membaca aku sudah faseh merangkai hurup. dan ketika ibuku datang menjemputku, guru-guruku memberitahu ibu kalau aku sudah pintar membaca. dengan bangga ibuku memelukku. "Mamak" yah itulah panggilan yang selalu aku sebut memanggil ibuku. setelah tamat tk, tibalah saatnya aku masuk SD. karena badanku yang mungil, mungkin para guru-guru tidak percaya kalau aku sudah pantas untuk masuk SD. akhirnya aku tes membaca dan berhitung. Tak lama kemudian aku diterima di SD yang sangat berjasa dalam hidupku "SDN 79 kota Bengkulu".
Selama 6 tahun belajar di SD, banyak sekali kenangan pahit manis yang aku alami. Pertama sekali aku sekolah, di daerahku mungkin belum banyak yang menggunakan mobil untuk berangkat kesekolah, jadi kami disini pergi dan pulang sekolah menggunakan "Angkot". Tapi sekarang aku berpikir, dulu jaman kami enak masih ada angkot untuk pergi menuntut ilmu, aman dari bahaya dan juga banyak teman saat naik angkot. Tapi sekarang di tv pernah saya melihat anak-anak SD pergi menuntut ilmu harus bersusah payah, bahkan nyawa mereka pun taruhannya. mungkin aku masih beruntung dari kisah anak-anak mungil di kota yang terpencil ini. anak nyebrang sungai

Seseorang membutuhkan pendididkan sebagai bekal pengetahuannya untuk bekerja dan mengetahui sesuatu hal. Tidak hanya itu pengetahuan merupakan hal yang paling penting dalam melanjutkan hidupnya ke depannya, Pendidikan di dapatkan dengan bersekolah untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, dalam berangkat ke seloh seorang anak sering sekali terlambat karena beberapa alasan yang menghambatnya, namun seorang anak ini tidak mau ketinggalan berapa menit saja ke sekolahnya.Dengan niat dan semangat akan menuntut ilmu setinggi-tingginya anak ini rela menempuh jarak yang cukup jauh dan mengalami beberapa rintangan untuk sampai ke sekolahnya, Bertepat di daerah Sapansalak, Solok Selatan, Sumatera barat ini terdapat sebuah sekolah dasar (SD) negri 19 yang terdapat di sebuah kampung terpencil, anak-anak di kampung ini hanya dapat bersekolah di sini karen asekolah ini merupakan sekoiah satu-satunya di daerah ini seperti yang dilansir situs judi bola.Dalam menuju kesekolah ini anak-anak yang bersekolah di SD ini harus menempuh jarak yang jauh dengan akses jalan yang sulit di lalui dan banyak bahaya yang mengancam jiwa mereka, Salah satu murid sekolah SD tersebut adalah Putra dan Farzi.Kedua anak tersebut harus menempuh jalan yang sulit melewati sawah dan sungai dan bahkan harus berhadapan langsung dengan hewan-hewan liar dan buas. Mereka pagi-pagi buta harus berjalan menuju ke Sekolahnya, kegiatan belajar mengajar mulai pukul 07.00 pagi, perjalanan yang di tempuhnya untuk sampai ke sekolahnya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam bila di tempuh dengan jalan kaki. Karena akses kendaraan yagn susah di daerah tersebut membuat kedua anak tersebut harus berjalan kaki menuju ke sekolahnya.Dengan menjijing sepatu mereka harus menelusuri jalan dengan tanah berlumpur dan berbatu, bahkan mereka bertemu hewan-hewan liar seperti babi hutan, babi hutan liar tersebut terkadang mengejarnya yang membuat mereka berdua berlali menghindar kejaran babi hutan tersebut dan juga harus menaiki rakit bambu untuk menyeberangi sungai, pada mitos yang ada bahwa sungai yang mereka lewati terdapat buaya liar.Pada saat pulang sekolah pun mereka berdua harus menempuh jarak yang sama untuk sampai kerumahnya, jam 12 tepat mereka pulang sekolah dan harus berjalan pulang menuju kerumah di bawah terik matahari yang panas mereka melepaskan sepatunya. Apalagi pada saat hujan tanah yang licin yang dapat membuat kedua anak tersebut tergelincir.

Dalam mendapatkan ilmu pendidikan anak ini bertaruh nyawa dan rela menmpuh jarak yang jauh dengan bersekolah, semangat dan niatnya memang patut di banggakan sebagai anak bangsa Indonesia masih ada yang ingin mendapatkan pendididkan.

3 komentar:

Rahmat Syatra M mengatakan...

Cerita siapa ni, :v

Unknown mengatakan...

ini ceritaku,mana ceritamu? haha

Rahmat Syatra M mengatakan...

haaahaha, Lanjutkan

Posting Komentar